JATIMPLUS.COM – Gelombang protes melanda kampus Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Sejumlah mahasiswa menggelar aksi demonstrasi untuk menuntut evaluasi total terhadap kepemimpinan Rektor UINSA, Prof. Akh. Muzakki. Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan desakan utama agar sang rektor bersedia mundur dari jabatannya.
Wakil Presiden BEM UINSA, Fadlurrakhman Fazle Purwardana, mengonfirmasi bahwa aksi ini dipicu oleh akumulasi kekecewaan mahasiswa dan elemen kampus terhadap gaya kepemimpinan yang dinilai tidak akomodatif.
Tudingan Kepemimpinan Otoriter dan Pemecatan Dekan
Fadlurrakhman menegaskan bahwa mahasiswa mengecam keras kepemimpinan Prof. Muzakki yang dianggap otoriter dan diktator. Kekecewaan tersebut bertambah setelah muncul insiden pencopotan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum yang diduga dilakukan secara sepihak.
“Kami menolak dan mengecam, dan kami juga ingin menurunkan secara hormat ya, secara pribadi dari Prof. Muzakki ini kemudian turun jadi Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya. Kami ingin kepemimpinan UINSA ke depan bisa menaungi dan mengayomi teman-teman mahasiswa maupun dosen,” tegas Fadlurrakhman, Rabu (16/9/2026).
Ia menambahkan, rasa tertekan tidak hanya dirasakan oleh mahasiswa, tetapi juga di kalangan staf pengajar.
“Kami menilai beliau ini sangat otoriter dan sangat diktator. Banyak keberatan dari dosen-dosen utamanya yang kemudian sampai aspirasinya ke mahasiswa karena takut untuk menyuarakan,” lanjutnya.
Kritik Kebijakan Sewa Fasilitas Kampus bagi Ormawa
Selain masalah kepemimpinan, jajaran Organisasi Mahasiswa (Ormawa) UINSA mengeluhkan kebijakan operasional kampus yang dianggap memberatkan. Salah satu poin krusial yang disorot adalah aturan penyewaan fasilitas internal seperti gedung dan Sport Center.
Fadlurrakhman membeberkan bahwa Ormawa diwajibkan menyisihkan sebagian dana kegiatan untuk diserahkan ke unit Pusat Bisnis kampus saat menggunakan fasilitas UINSA.
“Contoh kecil itu kita harus menyisihkan sedikit dana, seorang mahasiswa, utamanya ormawa, untuk menyewa Sport Center atau tempatlah di gedung. Beberapa persen dari penghasilan kegiatan kami itu harus diserahkan ke Pusat Bisnis,” jelasnya.
Rentetan Isu: Kasus Kopertais hingga Keterlambatan Almamater
Aksi mahasiswa UINSA ini juga membawa serangkaian tuntutan penting lainnya menyangkut transparansi dan pelayanan kampus, di antaranya:
1. Tuntutan Transparansi: Pengusutan tuntas kasus Kopertais.
2. Fasilitas Mahasiswa Baru: Desakan klarifikasi terkait keterlambatan pendistribusian buku, Kartu Tanda Mahasiswa (KTM), dan jas almamater bagi mahasiswa baru.
3. Evaluasi Kebijakan Kampus: Peninjauan kembali sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB), penyesuaian Uang Kuliah Tunggal (UKT), pembatasan jam malam, hingga kemudahan mekanisme peminjaman sarana kampus.
Hingga berita ini diturunkan, pihak rektorat UINSA Surabaya belum memberikan respons resmi terkait tuntutan serta desakan mundur yang dilayangkan oleh massa mahasiswa. (QSO)




