JATIMPLUS.COM – Lebih dari sepekan berkeliling Jawa Timur, film dokumenter fiksi Roots: Seratus Tahun Walter Spies di Bali karya sutradara Michael Schindhelm menutup rangkaian program Roots Tour de Java di Kota Surabaya, Senin (7/9//26)
Film yang mengangkat sosok seniman Jerman Walter Spies dan perjalanan perkembangan Bali tersebut sebelumnya diputar di sejumlah kota, termasuk Banyuwangi dan Jember, setelah menyelesaikan rangkaian pemutaran di berbagai wilayah Pulau Jawa.
Kehadiran Roots mendapat perhatian dari berbagai kalangan di Jawa Timur. Mulai dari pelaku seni, pemerhati budaya, aktivis lingkungan dan pariwisata, hingga akademisi seni turut menyaksikan sekaligus mendiskusikan berbagai isu yang diangkat dalam film tersebut.
Roots tidak hanya mengisahkan sosok Walter Spies, tetapi juga membuka ruang pembicaraan mengenai perjalanan sejarah dan perubahan Bali hingga menjadi salah satu destinasi pariwisata global. Film tersebut sekaligus menggambarkan upaya masyarakat Bali mempertahankan identitas budaya di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan industri pariwisata.
Melalui pendekatan sinematik yang mendalam, Michael Schindhelm memotret berbagai realitas tersebut dengan melibatkan lebih dari 100 seniman Bali dari berbagai genre. Keterlibatan para seniman itu memperkuat pesan film dalam melihat hubungan antara seni, budaya, masyarakat, lingkungan, dan perubahan zaman.
Pemilihan Jawa Timur sebagai titik akhir perjalanan Roots Tour de Java juga bukan tanpa alasan. Rangkaian pemutaran tersebut dirancang menyerupai perjalanan napak tilas Walter Spies sebelum akhirnya menetap di Bali.
Seniman kelahiran Moskow berkewarganegaraan Jerman itu diketahui pertama kali tiba di Batavia, yang kini menjadi Jakarta, pada 1923. Perjalanannya kemudian berlanjut ke sejumlah kota, termasuk Bandung, Yogyakarta dan Surabaya, sebelum akhirnya menuju Bali.
Project Director pameran ROOTS di ARMA Museum Ubud pada 2025, Yudha Bantono, yang kini mendapat mandat untuk membawa film Roots ke berbagai wilayah di Indonesia dan luar negeri, mengatakan rangkaian Roots Tour de Java telah menyelesaikan seluruh perjalanan keliling Pulau Jawa dengan Surabaya sebagai kota penutup.
Menurut Yudha, setiap kota yang menjadi lokasi pemutaran memberikan respons yang berbeda. Selain Jakarta, Bogor, Bandung, Yogyakarta dan Magelang, film tersebut juga diputar di Banyuwangi, Jember dan Surabaya.
“Di setiap tempat pemutaran film Roots memiliki respons yang beraneka ragam, termasuk ketika ditarik sebagai bahan refleksi terhadap perkembangan yang terjadi di daerahnya masing-masing,” ujar Yudha.
Di Jawa Timur, film Roots diputar di sejumlah ruang seni dan budaya. Di Jember, pemutaran berlangsung di Studio Serakit dan Museum Huruf pada 29 Agustus hingga 6 September 2026. Sementara di Banyuwangi, film diputar di Gedung Sinema Dinas Kebudayaan dan Pariwisata.
Adapun di Surabaya, pemutaran dilakukan di STKW Surabaya dan ditutup di Zumen Art Studio, Purimas Surabaya.
Pada sesi penutupan di Zumen Art Studio, penonton didominasi generasi Z dan kelompok usia dewasa. Pemutaran film sekaligus menjadi ruang diskusi mengenai pentingnya seni, sejarah, budaya dan lingkungan dalam menghadapi perubahan sosial.
Founder Zumen Art Studio Surabaya, Venta, mengatakan pemutaran Roots sejalan dengan program pendidikan seni yang dikembangkan lembaganya. Zumen Art Studio bergerak dalam pengembangan pengetahuan dan keterampilan melukis serta menggambar bagi anak-anak, remaja dan orang dewasa melalui latihan konsisten, umpan balik kelas yang terarah dan pengembangan karya.
Menurut Venta, film Roots memberikan perspektif mengenai bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya dan perubahan sosial dapat membentuk cara pandang generasi muda terhadap lingkungan di sekitarnya.
“Film Roots saya kira dapat menempatkan peran penting bagaimana sejarah, ingatan, seni, tradisi, budaya, dan perubahan sosial dalam membentuk cara pandang generasi muda terhadap dunia, sehingga dapat menginspirasi kaum muda agar lebih peka terhadap perubahan di sekitar mereka,” katanya.
Ia menilai film tersebut tidak sekadar mengajak penonton memahami sejarah Bali dan kondisi yang terjadi saat ini, tetapi juga mendorong penonton untuk merefleksikan kondisi sosial di lingkungan masing-masing.
“Lebih penting lagi, film ini menunjukkan bahwa seni dapat menjadi sarana untuk merespons perubahan secara positif,” imbuhnya.
Respons serupa disampaikan akademisi STKW Surabaya, Agus Sukamto, yang menjadi host pemutaran Roots di kampus tersebut. Pelukis yang akrab disapa Agus Koecing itu mengatakan kisah dalam film mengingatkannya pada keberadaan seni tradisi Ludruk di Surabaya.
Ia menyebut keberadaan kelompok Ludruk di Surabaya pada masa lalu sangat banyak, bahkan mencapai ratusan. Namun, saat ini keberadaan kelompok Ludruk semakin terbatas.
“Dahulu Ludruk di Surabaya jumlahnya ada tiga ratusan, namun di era sekarang bisa dihitung dengan jari keberadaannya,” ujar Agus.
Menurut dia, kisah Walter Spies dan perjuangan masyarakat Bali mempertahankan tradisi di tengah arus globalisasi menjadi refleksi penting bagi masyarakat Surabaya untuk kembali melihat akar budaya lokal.
“Ini sangat penting bagi kita untuk menengok kembali apa itu akar, lalu akar yang berupa tradisi budaya itu agar tumbuh dan berkembang, kemudian menjadi milik generasi berikutnya untuk mengembangkannya,” katanya.
Sementara itu, pelukis asal Jember, Ahmad Pandi, yang menghadiri pemutaran di Studio Serakit Jember, menilai Roots memberikan inspirasi bagi perkembangan ekosistem seni di daerahnya.
Menurutnya, film tersebut mendorong kalangan kreatif untuk kembali menggali sejarah daerah sebagai pintu masuk dalam memahami berbagai persoalan sosial, budaya dan lingkungan yang terjadi saat ini.
“Film Roots seperti menarik kita untuk mawas terhadap perkembangan daerahnya, dalam mengkritisi bahkan mengadvokasi setiap perubahan yang mengarah pada degradasi sosial, budaya dan lingkungan,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Ketua Dewan Kesenian Blambangan Banyuwangi, Hasan Basri. Pemerhati budaya Osing tersebut menilai Roots memberikan refleksi penting bagi seniman maupun masyarakat Banyuwangi, terutama dalam melihat perkembangan seni, budaya dan pariwisata.
Ia menyoroti peran seniman asing seperti Walter Spies dalam perkembangan seni dan budaya Bali hingga turut memberikan pengaruh terhadap perkembangan pariwisata.
Namun, menurut Hasan, perkembangan tersebut juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Pesan tersebut dinilai relevan dengan kondisi Banyuwangi yang dalam beberapa tahun terakhir mengalami perkembangan sektor pariwisata.
“Semua kebaikan juga ada sisi gelapnya. Maka itu, sebagai warga Banyuwangi, film ini mengingatkan kembali posisi Banyuwangi dengan pariwisatanya yang sangat berkembang saat ini,” katanya.
Ia berharap Banyuwangi memiliki cetak biru atau blueprint pengembangan seni, budaya dan pariwisata yang mampu berjalan secara berkelanjutan tanpa mengabaikan identitas lokal serta kelestarian lingkungan.
Yudha Bantono menambahkan, tingginya antusiasme masyarakat, khususnya dari kalangan pemerhati sejarah, seni, budaya dan lingkungan, menunjukkan bahwa Roots memiliki ruang yang luas untuk kembali diputar di berbagai daerah.
“Minat masyarakat khususnya penggiat sejarah, seni, budaya dan lingkungan untuk menantikan film ini diputar kembali di Pulau Jawa maupun di luar Pulau Jawa sangat tinggi. Ke depan sedang dirancang program agar film ini juga bisa dinikmati kembali oleh penonton secara luas,” katanya di sela penutupan Roots di Zumen Art Studio, Purimas Surabaya, 6 September 2026.
Dengan berakhirnya Roots Tour de Java di Surabaya, perjalanan film tersebut tidak hanya menjadi rangkaian pemutaran karya sinematik. Lebih jauh, Roots menjadi ruang refleksi bagi masyarakat di berbagai daerah untuk kembali melihat hubungan antara sejarah, seni, budaya, pariwisata dan lingkungan, sekaligus mempertanyakan bagaimana akar budaya lokal dapat tetap tumbuh di tengah perubahan zaman. (OLY)




