BisnisUmum

Kinerja Kuartal I 2026 Solid, Telkom Perkuat Bisnis Digital dan Infrastruktur

258
×

Kinerja Kuartal I 2026 Solid, Telkom Perkuat Bisnis Digital dan Infrastruktur

Sebarkan artikel ini

JATIMPLUS.COM – PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) membukukan kinerja positif pada kuartal pertama 2026 di tengah ketidakpastian kondisi makroekonomi. Perseroan mencatat pendapatan konsolidasi sebesar Rp37,2 triliun atau tumbuh 1,5 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), didorong pertumbuhan sejumlah segmen bisnis strategis.

Selain pendapatan yang meningkat, Telkom juga mencatat EBITDA sebesar Rp18 triliun dengan EBITDA margin 48,3 persen. Sementara laba bersih tercatat Rp4,3 triliun dengan margin laba bersih 11,7 persen. Adapun laba bersih yang dinormalisasi mencapai Rp5,1 triliun dengan margin 13,8 persen.

Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini, mengatakan capaian tersebut menunjukkan konsistensi perusahaan dalam menjalankan disiplin operasional sekaligus mempercepat implementasi strategi transformasi TLKM 30.

“Tahun ini, Telkom akan semakin gencar mengakselerasi eksekusi strategi TLKM 30 demi menciptakan value yang optimal dan memastikan keberlangsungan perusahaan yang semakin solid ke depannya. Kinerja kuartal pertama 2026 ini menjadi awal yang baik bagi TelkomGroup untuk terus melakukan perbaikan secara bertahap,” ujar Dian.

Menurut Telkom, penurunan laba bersih terutama dipengaruhi dampak lanjutan percepatan depresiasi dan proses normalisasi bisnis selama fase transformasi. Namun tekanan tersebut bersifat transisional dan non-cash, sementara fundamental operasional perusahaan tetap terjaga.

Di sisi lain, arus kas operasional tumbuh 3,1 persen YoY menjadi Rp17,3 triliun. Pertumbuhan ini ditopang program efisiensi total expenditure (TOTEX) dan peningkatan disiplin penagihan.

Pada segmen Business to Consumer (B2C), Telkomsel membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp27,6 triliun atau tumbuh 1,3 persen YoY. Pertumbuhan tersebut didorong oleh bisnis digital dan peningkatan konsumsi data yang naik 2,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Strategi penyederhanaan produk, disiplin harga, serta peningkatan pengalaman pelanggan turut mendorong Average Revenue Per User (ARPU) menjadi Rp45.100 atau naik 6,4 persen YoY. Menurut Dian, kondisi ini mencerminkan perbaikan pasar telekomunikasi yang semakin sehat dan stabil.

READ  Perkuat Modal UMKM, Komisi C DPRD Jatim Dorong Skema Kredit Ramah Melalui Bank Jatim dan BPR

“Industri telekomunikasi masih sangat prospektif karena konektivitas dan internet kini telah menjadi kebutuhan primer masyarakat. Kami optimistis memperkuat ekosistem mobile dan fixed broadband secara berkelanjutan dengan tetap mengutamakan pengalaman pelanggan,” katanya.

Sementara itu, segmen B2B Infrastructure menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dengan pendapatan mencapai Rp2,4 triliun atau meningkat 6,8 persen YoY. Pertumbuhan tersebut ditopang ekspansi bisnis Fiber-to-the-Tower (FTTT).

Anak usaha Telkom di bidang infrastruktur telekomunikasi, Mitratel, mencatat pendapatan Rp2,3 triliun atau tumbuh 1,4 persen YoY. Perseroan juga berhasil mempertahankan EBITDA margin yang tinggi, yakni 82,7 persen.

Sepanjang kuartal pertama 2026, Mitratel menambah jaringan fiber optik sepanjang 1.080 kilometer sehingga total kepemilikannya mencapai 58.279 kilometer. Langkah ini memperkuat posisi perusahaan sebagai Next-Gen Tower Company yang terintegrasi di Asia Tenggara.

Pada bisnis data center, Telkom melalui NeutraDC Group terus menangkap peluang pertumbuhan seiring meningkatnya kebutuhan layanan digital dan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI). Untuk memperkuat fokus bisnis, Telkom menyiapkan konsolidasi pengelolaan seluruh aset data center di bawah NeutraDC.

Di segmen Wholesale & International Service, pendapatan tercatat Rp2,8 triliun. Pertumbuhan layanan interkoneksi mencapai 18,9 persen secara kuartalan (QoQ), didorong meningkatnya aktivitas bisnis international wholesale voice.

Sementara segmen B2B ICT membukukan pendapatan sebesar Rp3,1 triliun. Meski tengah menjalani proses restrukturisasi, langkah tersebut dinilai penting untuk menciptakan margin yang lebih sehat, mengurangi tumpang tindih produk, serta memperkuat daya saing jangka panjang.

Sepanjang tiga bulan pertama 2026, Telkom merealisasikan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp4,9 triliun atau sekitar 13,2 persen dari total pendapatan. Sebanyak 99 persen dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan infrastruktur pada segmen B2C, B2B Infrastructure, dan International.

READ  Kinerja Positif, Penjualan Listrik PLN Jatim 2025 Capai 46,3 TWh

Perseroan juga melanjutkan berbagai inisiatif transformasi melalui penyederhanaan portofolio bisnis berbasis HoldCo-OpCo, termasuk divestasi, merger, dan likuidasi entitas non-inti.

Salah satu langkah strategis yang tengah berjalan adalah divestasi AdMedika Group kepada investor strategis yang ditargetkan rampung pada akhir semester pertama 2026. Selain itu, Telkom juga menyiapkan tahap kedua pemisahan bisnis wholesale fiber connectivity ke InfraNexia yang ditargetkan selesai pada kuartal ketiga tahun ini.

Langkah tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengoptimalkan monetisasi aset dan memperkuat bisnis B2B sebagai sumber pertumbuhan baru. Saat ini kontribusi bisnis fiber masih berada di kisaran 15 persen dan ditargetkan meningkat menjadi sekitar 25 persen seiring optimalisasi pemanfaatan infrastruktur dan penyelesaian transfer aset.

“Tahun 2026 menjadi periode yang penuh peluang sekaligus tantangan bagi TelkomGroup. Karena itu, kami akan terus mempercepat eksekusi strategi transformasi TLKM 30 dengan tetap mengutamakan prinsip disiplin operasi untuk memperkuat keberlanjutan bisnis dan membangun ekosistem digital yang mampu menciptakan dampak lebih luas,” tutup Dian. (WBG)