BisnisUmum

Rokok Ilegal Marak, Pendapatan Gudang Garam Anjlok Rp3,19 Triliun di Semester I-2026

248
×

Rokok Ilegal Marak, Pendapatan Gudang Garam Anjlok Rp3,19 Triliun di Semester I-2026

Sebarkan artikel ini
Foto Istimewa

JATIMPLUS.COM – Maraknya peredaran rokok ilegal tanpa cukai kian menggerus kinerja industri rokok legal di Indonesia. PT Gudang Garam Tbk (GGRM) mencatat penurunan volume produksi hingga 3,2 miliar batang sepanjang semester I-2026, yang berimbas langsung pada merosotnya pendapatan perusahaan hingga Rp3,19 triliun secara tahunan (year-on-year).

Direktur dan Sekretaris Perusahaan Gudang Garam, Heru Budiman, mengungkapkan bahwa produksi rokok perseroan menyusut dari 23,7 miliar batang pada semester I-2025 menjadi hanya 20,5 miliar batang pada periode Januari–Juni 2026.

Kondisi ini membuat pendapatan GGRM terkontraksi sekitar 7,2%, dari Rp44,36 triliun menjadi Rp41,17 triliun.

“Kalau kita masukkan pada cost of revenue, itu mengalami penurunan sekitar 13,3 persen, sejalan dengan menurunnya volume penjualan,” ujar Heru, Kamis (10/9/2026).

Mencekik Daya Beli dan Terdesak Produk Tanpa Cukai
Heru menjelaskan, tekanan terhadap penjualan dipicu oleh penurunan daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang belum pulih. Di saat yang sama, kenaikan tarif cukai yang terus berlanjut membuat harga rokok legal makin mahal dan sulit bersaing.

Sebab itu, konsumen cenderung beralih mencari alternatif yang jauh lebih murah, yakni rokok ilegal yang beredar bebas tanpa dibebani pita cukai.

Sebagai gambaran kenaikan beban cukai perseroan:

1. Tahun 2020: Cukai rokok isi 12 batang berada di kisaran Rp11.624 per bungkus.

2. Tahun 2026: Cukai Sigaret Kretek Mesin (SKM) melonjak hingga Rp19.071 per bungkus.

Produsen rokok legal berada di posisi dilematis karena tidak bisa membebankan seluruh kenaikan cukai kepada harga jual tanpa risiko kehilangan konsumen.

Efisiensi Efektif: Pangkas Beban Operasional dan Aset
Menghadapi tekanan pasar, Gudang Garam mulai melakukan penyesuaian pada struktur biaya dan modal kerja. Perseroan berhasil memangkas beban operasional dari Rp3,4 triliun menjadi Rp2,6 triliun pada semester I-2026 seiring berkurangnya aktivitas produksi.

READ  BPBD Pasuruan Terus Salurkan Air Bersih ke Desa Terdampak Kekeringan

Selain itu, posisi keuangan perseroan mencatatkan beberapa perubahan signifikan:

1. Pinjaman Bank: Sepanjang Januari–Juni 2026, GGRM tidak lagi memiliki pinjaman bank jangka pendek, membaik dibanding semester I-2025 yang mencapai Rp5,2 triliun.

2. Persediaan Bahan Baku: Nilai persediaan turun dari Rp37 triliun menjadi Rp31,76 triliun akibat pengurangan pembelian bahan baku.

3. Aset Tetap: Mengalami penurunan 10,2% dari Rp21,19 triliun menjadi Rp19,03 triliun.

Rangkaian penyesuaian ini menunjukkan tekanan industri rokok legal kini tidak hanya berdampak pada omzet penjualan, tetapi juga menjalar ke sektor produksi, persediaan bahan baku, hingga manajemen aset perusahaan. (FBX)